Jakarta, Hotfokus.com
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih berlanjut. Setelah nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga diproyeksikan berpotensi turun hingga menyentuh level 4.000.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Israel, Hamas, dan Lebanon Selatan disebut memperkuat dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Kondisi ini mendorong penguatan dolar dan kenaikan harga minyak, memperburuk tekanan terhadap rupiah dan IHSG,” kata Ibrahim, Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan, data tenaga kerja Amerika Serikat yang meningkat juga membuka peluang bank sentral kembali menaikkan suku bunga. Kondisi itu membuat peluang penurunan suku bunga semakin kecil dan mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Di dalam negeri, kebutuhan dolar untuk impor minyak dan subsidi energi terus meningkat. Sementara itu, asumsi APBN terkait nilai tukar rupiah dan harga minyak dinilai semakin tertekan akibat lonjakan harga energi.
Ibrahim juga menilai intervensi pemerintah dan Bank Indonesia melalui lelang obligasi belum memberikan hasil optimal.
“Bahkan lelang obligasi terakhir gagal total, sehingga tekanan terhadap rupiah dan IHSG semakin besar,” ujarnya. (DIN/GIT)
Leave a comment