JAKARTA, hotfokus.com
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria, menilai sinergitas antara holding, subholding, dan anak-anak perusahaan BUMN hingga saat ini masih belum berjalan optimal. Menurutnya, konsep besar pembentukan holding BUMN yang semestinya menjadi instrumen penguatan bisnis nasional justru terkesan masih sebatas slogan dan formalitas korporasi.
“Sampai hari ini masih terlihat adanya kesan bahwa sebagian holding dan subholding BUMN belum benar-benar menjadikan anak perusahaan sebagai aset strategis yang harus diperkuat secara serius. Anak perusahaan masih sering diperlakukan sekadar pelengkap struktur korporasi,” kata Sofyano Zakaria dalam keterangannya di Jakarta.
Menurut Sofyano, pembentukan holding BUMN sejatinya dilakukan pemerintah untuk menciptakan efisiensi, memperkuat daya saing, membangun integrasi bisnis, dan meningkatkan kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara. Namun dalam praktiknya, semangat sinergi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh anak-anak perusahaan.
“Sinergi jangan hanya berhenti menjadi jargon dalam rapat direksi atau presentasi korporasi. Yang dibutuhkan adalah dukungan nyata kepada anak perusahaan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan mampu menghasilkan laba,” tegasnya.
Ia mengatakan filosofi utama pembentukan holding sebenarnya adalah menciptakan kekuatan kolektif antar perusahaan negara. Karena itu holding dan subholding seharusnya hadir menjadi pusat penguatan bisnis, pusat integrasi pasar, pusat efisiensi, dan pusat pembinaan bagi seluruh anak perusahaan di bawahnya.
“Kalau holding dan atau sub holding hanya menjadi pengendali administratif dan penarik dividen semata, maka keberadaan holding hanya akan menambah lapisan birokrasi korporasi tanpa memberikan nilai tambah signifikan,” ujarnya.
Menurut dia, kekuatan holding dan atau subholding sejatinya ditentukan oleh kekuatan anak-anak perusahaan yang berada di bawahnya. Karena itu pola hubungan yang dibangun tidak boleh sekadar birokratis dan top down, melainkan harus berbasis pembinaan bisnis yang nyata.
“Anak perusahaan jangan dipandang sebagai beban atau sekadar unit pelengkap. Mereka harus diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru yang mampu menyumbangkan laba bagi induk usaha dan dividen bagi negara,” katanya.
Ia juga menyoroti masih lemahnya keberpihakan holding terhadap anak perusahaan dalam pengelolaan proyek maupun pengembangan bisnis di lingkungan grup BUMN.
“Banyak proyek besar di lingkungan BUMN justru tidak sepenuhnya melibatkan anak perusahaan sendiri. Bahkan ada anak perusahaan yang harus bersaing keras untuk mendapatkan pekerjaan dari induknya. Ini ironi besar dalam konsep sinergitas BUMN,” ujarnya.
Menurut Sofyano, sinergi bukan berarti memberikan proyek tanpa kompetensi, tetapi bagaimana holding membangun kapasitas dan kemampuan anak perusahaan agar mampu bersaing secara profesional.
“Kalau anak perusahaan terus dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan nyata, maka jangan berharap mereka bisa tumbuh menjadi perusahaan sehat dan produktif,” katanya.
“Harus ada arah yang jelas. Mana anak perusahaan yang diproyeksikan menjadi pusat profit, mana yang perlu direstrukturisasi, dan mana yang harus dikembangkan untuk bisnis masa depan,” katanya.
Sofyano menegaskan holding dan atau sub holding juga memiliki tanggung jawab menjaga kesehatan bisnis anak perusahaan. Jangan sampai anak usaha terus mengalami kerugian bertahun-tahun tanpa solusi yang jelas.
“Kalau ada masalah manajemen harus segera dibenahi. Kalau ada masalah model bisnis harus segera diperbaiki. Kalau ada masalah pasar maka holding dan atau sub holding harus hadir membantu membuka akses,” ujarnya.
Ia mengingatkan kerugian anak perusahaan pada akhirnya juga akan menjadi beban holding dan negara.
“Negara tentu tidak ingin BUMN hanya tampak besar di atas kertas tetapi rapuh di dalam. Yang dibutuhkan adalah BUMN yang sehat secara menyeluruh,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Sofyano juga menyoroti pentingnya peran Danantara dalam memperkuat ekosistem BUMN secara keseluruhan.
Menurutnya, Danantara tidak boleh hanya fokus pada pengelolaan aset besar dan proyek-proyek jumbo semata, tetapi juga harus memberikan perhatian serius terhadap kesehatan dan produktivitas anak-anak perusahaan BUMN.
“Danantara harus memastikan bahwa holding dan subholding benar-benar menjalankan fungsi pembinaan korporasi secara serius,” ujarnya.
Ia mengatakan Danantara harus mampu menjadi pengawas strategis yang memastikan seluruh rantai bisnis BUMN bergerak sehat, produktif, dan saling menguatkan.
“Jangan sampai holding dan atau subholding hanya sibuk mempercantik laporan konsolidasi tetapi mengabaikan kondisi riil anak usaha,” katanya.
Menurut Sofyano, “Kalau anak perusahaan sehat dan kuat maka holding otomatis akan kuat. Kalau holding kuat maka kontribusi dividen kepada negara juga akan meningkat,” ujarnya.
Karena itu ia meminta Danantara mendorong lahirnya paradigma baru pengelolaan BUMN yang lebih produktif dan berbasis penciptaan nilai jangka panjang.
“Danantara harus memastikan sinergi di BUMN benar-benar terukur dan berjalan nyata, bukan sekadar slogan,” katanya.
Menurut Sofyano, BUMN harus dipahami bukan sekadar entitas bisnis biasa, tetapi instrumen ekonomi negara yang memiliki tanggung jawab besar terhadap pembangunan nasional.
Karena itu seluruh aset negara yang berada di dalam BUMN harus dikelola secara maksimal demi kepentingan rakyat dan negara.

“Anak perusahaan bukan anak tiri. Mereka adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional. Kalau dikelola serius, banyak anak perusahaan BUMN sebenarnya mampu tumbuh menjadi perusahaan besar yang menopang kekuatan induk usaha sekaligus menjadi sumber penerimaan negara,” katanya.
“Danantara juga harus tampil sebagai katalis yang memastikan seluruh ekosistem BUMN bergerak sehat dan produktif demi meningkatkan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan dividen bagi negara,” tutup Sofyano Zakaria. (Ebs)
Leave a comment