Jakarta, hotfokus.com
Kabar baik datang dari neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai USD 41,05 miliar, melesat dari USD 31,33 miliar pada 2024. Lonjakan ini terjadi karena kinerja nonmigas yang kian solid, sementara migas masih tertahan.
Sepanjang 2025, ekspor nonmigas menembus USD 269,84 miliar, tumbuh 7,66% secara tahunan. Mesin utamanya datang dari industri pengolahan yang melonjak 14,47%, mengunci peran sektor ini sebagai penopang utama perdagangan.
“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama ekspor selama 2025, cukup besar andilnya dalam mendongkrak kinerja,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Di sisi lain, migas masih menjadi titik lemah. Ekspor migas sepanjang 2025 hanya USD 13,07 miliar, anjlok 17,69% dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini berimbas pada neraca migas yang tetap defisit USD 19,70 miliar, meski sedikit membaik dari defisit USD 20,40 miliar pada 2024.
“Untuk komoditi migas masih mengalami defisit, sementara nonmigas justru surplus besar,” ujar Ateng.
Tekanan migas juga terlihat pada Desember 2025. Impor migas tercatat USD 3,35 miliar, naik tipis 1,71% yoy, sementara ekspor migas turun 18,14% menjadi USD 1,26 miliar. Artinya, ketergantungan pada nonmigas kian nyata untuk menjaga surplus dagang tetap kuat, sementara migas masih membebani struktur perdagangan. (DIN/GIT)
Leave a comment