Home NASIONAL Poly-Working, Side Hustle, dan Rasionalitas Bertahan Generasi Z
NASIONAL

Poly-Working, Side Hustle, dan Rasionalitas Bertahan Generasi Z

Share
Poly-Working, Side Hustle, dan Rasionalitas Bertahan Generasi Z
Share

Oleh : Andi N Sommeng

Kalau hari ini ada anak muda bekerja satu pekerjaan saja, justru itu yang perlu ditanya: yakin cukup?
Bukan soal ambisi, bukan pula soal mental baja. Ini soal hitung-hitungan hidup yang makin jujur.

Hustle Culture

Generasi Z hidup di dunia kerja yang aneh: lowongan ada, kepastian sedikit. Maka jangan heran jika poly-working dan side hustle bukan lagi pilihan gaya hidup, melainkan refleksi bertahan. Seperti orang kampung menanam padi, jagung, dan singkong sekaligus—bukan karena serakah, tapi karena tahu cuaca tak bisa ditebak.
Poly-working berarti bekerja di beberapa tempat atau proyek secara paralel. Side hustle adalah versi populernya, kerja sampingan yang awalnya “ tambahan ”, tapi lama-lama justru jadi penopang utama . Bagi Gen Z, keduanya bukan simbol hustle culture yang berisik, melainkan logika sunyi: jangan taruh semua harapan di satu pintu.
Sederhana saja alasannya. Satu gaji hari ini sering kali hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Biaya hidup naik cepat, karier naik pelan,_promosi datang belakangan , kalau datang lama sekali dan/atau posisi tiba-tiba diisi dari luar oleh kerabat orang dalam, politisi ataupun pejabat perusahaan . Dalam kondisi seperti ini, bergantung pada satu pekerjaan justru terasa naif. Poly-working adalah diversifikasi risiko, versi manusia dari portofolio investasi.
Ada juga soal kepercayaan. Generasi Z tumbuh menyaksikan institusi kerja berubah wajah dengan cepat. Hari ini disebut aset, besok disebut beban. PHK tidak lagi drama, melainkan prosedur . Dari situ lahir sikap dingin tapi rasional: loyalitas itu penting, tapi hidup lebih penting . Jika perusahaan punya rencana cadangan, pekerja pun merasa wajar punya pegangan lain.
Perubahan ini juga menggeser cara orang mendefinisikan diri. Dulu orang ditanya, “kerjanya apa?” Sekarang jawabannya sering panjang. “Pagi ini A, sore B, malam C.” Bukan karena bingung, tapi karena identitas kerja tidak lagi tunggal. Yang dijual bukan jabatan, melainkan keterampilan. Siapa bisa apa, bukan siapa bekerja di mana.
Di sinilah sikap hustle muncul, tapi jangan dibayangkan sebagai teriakan motivasi atau kutipan poster. Hustle ala Gen Z cenderung sepi, nyaris teknokratis. Belajar skill baru bukan karena disuruh bos, tapi karena takut tertinggal. Ambil proyek tambahan bukan demi pamer sibuk, tapi demi jaga napas ekonomi. Ini hustle tanpa romantisme—kerja keras yang tahu diri.

Teknologi membuat semua ini mungkin.

Kerja jarak jauh, platform digital, dan ekonomi gig membuka pintu ke banyak peran sekaligus. Satu laptop, banyak klien, lintas kota bahkan negara. Kebebasan terasa nyata. Tapi seperti biasa, setiap kemudahan punya biaya. Jam kerja kabur. Libur terasa bersalah. Tidak ada bos yang marah, tapi notifikasi selalu ada.
Di titik ini, poly-working mulai bersinggungan dengan kelelahan. Banyak anak muda tetap produktif sambil lelah—burnout yang rapi, tidak berisik. Mereka merdeka dari kantor, tapi terikat pada kalender. Tidak ada yang memaksa, tapi semua terasa harus. Eksploitasi tidak lagi datang dari luar, melainkan dari dalam.
Fenomena ini sejalan dengan apa yang pernah disebut Ulrich Beck sebagai risk society: masyarakat di mana individu dipaksa mengelola risiko yang dulu ditangani institusi. Jika dulu negara dan perusahaan memberi rasa aman, kini individu diminta mengatur sendiri masa depannya. Dalam konteks kerja, poly-working adalah respons logis terhadap risiko yang dipersonalisasi.
Guy Standing menyebut kelompok ini sebagai bagian dari precariat: kelas pekerja baru yang hidup dalam ketidakpastian kontrak, pendapatan, dan masa depan . Namun Gen Z tidak sepenuhnya pasif. Mereka merespons dengan cara paling masuk akal yang mereka punya: bergerak cepat, belajar cepat, dan tidak bergantung pada satu sumber harapan.
Maka keliru jika poly-working dibaca sebagai kemalasan atau ketidaksetiaan . Justru sebaliknya, ia menunjukkan kesadaran tinggi bahwa dunia tidak lagi stabil . Generasi Z tidak anti-kerja. Mereka justru terlalu sadar bahwa kerja hari ini tidak otomatis menjamin hidup esok hari.
Pada akhirnya, poly-working dan side hustle adalah cermin zaman. Bukan ideal, bukan pula sepenuhnya sehat, tapi bisa dimengerti. Gen Z tidak bertanya di mana mereka bekerja. Mereka bertanya berapa lama mereka bisa bertahan jika satu pintu tertutup.
Dan di balik semua hustle itu, ada harapan kecil yang jarang diucapkan: semoga suatu hari nanti, bekerja keras tidak lagi sekadar cara bertahan hidup, tetapi jalan untuk hidup dengan tenang, utuh, dan sedikit lebih manusiawi.

Dunia Kerja yang berubah

Maka jangan buru-buru menasihati Generasi Z agar “fokus satu pekerjaan saja”. Nasihat itu terdengar mulia, tapi sering lahir dari dunia yang sudah tidak ada. Dunia yang dulu menyediakan tangga karier, jaminan sosial, dan waktu untuk lelah dengan tenang.
Generasi Z hidup di dunia lain. Dunia di mana kepastian adalah barang langka, dan janji stabilitas sering datang tanpa garansi . Di dunia seperti ini, poly-working dan side hustle bukan soal tidak setia, melainkan soal tidak ingin naif.


Mereka bekerja banyak bukan karena tidak sabar, tapi karena terlalu sadar. Terlalu sadar bahwa satu pintu bisa tertutup kapan saja, sering tanpa aba-aba. Maka mereka menyiapkan pintu lain—kadang terlalu banyak, sampai lupa cara duduk diam.
Ironisnya, generasi yang paling sering dituduh tidak loyal justru adalah generasi yang paling rajin menjaga hidupnya sendiri. Mereka tidak meminta banyak: hanya cukup aman untuk hidup wajar, cukup waktu untuk bernapas, dan cukup ruang untuk tidak terus-menerus merasa tertinggal.
Jika ini disebut hustle, maka ia bukan pesta produktivitas. Ia adalah kerja keras versi hemat harapan. Tidak glamor, tidak heroik, tapi masuk akal.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran kecilnya,
bukan Generasi Z yang terlalu banyak bekerja,
melainkan dunia kerja yang terlalu sedikit memberi alasan untuk percaya.[•]

|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
12Januari2025

Verba volant, scripta manent

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Harga pupuk bersubsidi turun 20% tanpa tambah anggaran. Menko Pangan sebut reformasi ini langkah bersejarah bagi petani.
NASIONAL

Harga Pupuk Turun 20%! Menko Pangan Ungkap Reformasi Ini Bikin Petani Diuntungkan

Jakarta, hotfokus.com Kabar besar datang dari sektor pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan...

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2021 Bergantung Perkembangan Varian Delta
NASIONAL

Pemerintah akan Bentuk BUMN Khusus Bidang Semikonduktor

Jakarta, hotfokus.com Industri elektronik menjadi salah sektor prioritas yang mendapat perhatian serius....

Mentan Amran menyita 133 ton bawang bombay ilegal dan menegaskan tak ada toleransi impor ilegal yang merugikan petani.
NASIONAL

Amran Geram! Impor Ilegal Bawang Ancam Petani, 133 Ton Disita dan Pelaku Diburu

Jakarta, hotfokus.com Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali mengirim sinyal keras ke...

Penjaminan dan asuransi ekspor dinilai krusial untuk menekan risiko perdagangan global di tengah gejolak geopolitik dan digitalisasi transaksi.
NASIONAL

Penjaminan Ekspor Jadi Andalan Hadapi Gejolak Perdagangan Global

Jakarta, hotfokus.com Dinamika perdagangan global yang makin kompleks menuntut pelaku usaha dan...