Jakarta, Hotfokus.com
Hujan lebat yang turun tanpa jeda membuat warga Kabupaten Tapanuli Tengah diliputi rasa waswas. Permukaan Sungai Sipansihaporas perlahan meninggi, arusnya membawa ranting hingga kayu gelondongan dari kawasan hulu. Ancaman banjir bandang yang terjadi pada November lalu pun tak terelakkan. Namun di tengah situasi genting itu, PLTA Sipansihaporas menunjukkan peran krusial sebagai penahan bencana, bukan hanya penghasil listrik ramah lingkungan.
Erwin Tambunan, warga Desa Sihaporas, masih menyimpan ingatan kuat tentang hari-hari penuh ketegangan tersebut. Hujan yang mengguyur hampir sepekan membuat warga terus memantau kondisi sungai. “Air sungai naik cepat, arusnya deras sekali. Kami sudah bersiap kalau terjadi hal terburuk,” ujarnya. Kekhawatiran memuncak ketika kayu-kayu besar ikut terseret arus. Warga pun memilih mengungsi demi keselamatan.
Di saat debit air mencapai titik kritis, bendungan PLTA Sipansihaporas bekerja menahan laju air dari hulu. Material banjir berupa kayu gelondongan dan sedimen tertumpuk di area bendungan, sehingga tidak langsung menghantam kawasan permukiman di hilir. Peran ini terbukti vital karena setidaknya tiga desa terhindar dari potensi kerusakan yang lebih besar.
“Kalau semua kayu itu sampai ke desa, rumah kami bisa habis. Dengan adanya PLTA, kami merasa diselamatkan,” tutur Erwin.

PLN menegaskan fungsi pengendalian ini memang sudah melekat dalam desain infrastruktur PLTA. Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menyebut bendungan berperan menahan material banjir sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik. Menurutnya, sistem kelistrikan tetap berjalan meski cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut.
PLTA Sipansihaporas sendiri memanfaatkan aliran dari tiga sungai dan memiliki kapasitas terpasang 50 megawatt (MW). Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menjelaskan bahwa sistem bendungan dirancang adaptif untuk menghadapi curah hujan tinggi. Saat banjir, aliran air dikendalikan agar tekanan ke wilayah hilir tetap aman.
Setelah kondisi berangsur pulih, seluruh unit PLTA kembali beroperasi normal pada 2 Desember 2025. Pasokan listrik di Sibolga dan Pandan kembali stabil. Lebih dari 20 tahun menyuplai energi bersih, PLTA Sipansihaporas kini menegaskan satu pesan penting: keberadaannya tak hanya menerangi rumah warga, tetapi juga menjadi pelindung saat alam menunjukkan sisi ekstremnya. (*)
Leave a comment