Jakarta, hotfokus.com
Perajin alas sepatu seperti sepatu dan sandal di sentra industri kecil dan menengah (IKM) Ciomas, Bogor, hingga kini masih dibayangi masalah klasik. Tantangan yang hadapi perajin, mulai keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan hingga kurangnya inovasi produk.
“Perajin di sentra IKM ini juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor,” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangannya Senin (5/1/2026).
Untuk memperkuat daya saing para perajin seperti ini, “Kemenperin melaksanakan berbagai kebijakan, program fasilitasi serta pelatihan dan pendampingan bagi sentra IKM yang membutuhkan penguatan kapasitas usaha agar mampu bersaing di pasar domestik maupun global,” ungkapnya.
Dari hasil dialog antara Dirjen Industri Kecil, Menenga dan Aneka (IKMA) Reni Yanita dengan para perajin diketahui perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19 turut mempengaruhi kinerja usaha di sentra tersebut.
Selain itu juga terkait isu regenerasi perajin. Disebutkan, sebagian besar perajin di sentra IKM sepatu dan sandal Ciomas merupakan generasi senior yang belum sepenuhnya memiliki pengetahuan dan keterampilan baru. “Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi,” sebut Reni.

Menurut dirjen, kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan 11,89 persen selama periode Januari hingga Agustus 2025, serta menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki. (bi)
Leave a comment