Home HUKUM Ustaz Habib Abdul Hakim Jadi Korban Penganiayaan di Bekasi, Pelaku Diproses Polisi
HUKUMUncategorized

Ustaz Habib Abdul Hakim Jadi Korban Penganiayaan di Bekasi, Pelaku Diproses Polisi

Share
Ustaz Habib Abdul Hakim Jadi Korban Penganiayaan di Bekasi, Pelaku Diproses Polisi
Share

Bekasi, hotfokus.com

Ustaz Habib Abdul Hakim menghadapi pengalaman traumatis setelah mendatangi pertemuan warga di Lapangan Badminton Perumahan Harapan Mulya, Bekasi, Rabu (3/5/2025) malam. Dia datang untuk menengahi sengketa bangunan, malah dipukul dan disundul hingga bibirnya berdarah.

Korban dan Kronologi

Sekitar pukul 20.20 WIB, Ustaz Habib Abdul Hakim tiba di Cluster Evodia RT 02/RW 13 untuk membahas keluhan warga soal bangunan tanpa izin. Diskusi berjalan panas ketika ketua RT/RW menolak masukan. “Dia (Pelaku dugaan penganiayaan) pertama sundul wajah saya, kemudian membenturkan kepala saya dengan kepalanya hingga kepala saya membentur ke tembok berulang kali,” kisah Ustaz Habib kepada Hotfokus.com, saat dihubungi, Minggu (4/5/2025).

Pertolongan Medis dan Laporan Polisi

Usai kejadian, Ustaz Habib Abdul Hakim lalu dilarikan ke Rumah Sakit (RS). Setelah mendapat perawatan awal di RS Tarumajaya, hanya diberi suntik tetanus, Ustaz Habib Abdul Hakim langsung bergegas ke Polsek Tarumajaya. Polisi mencatat laporan sebagai STPL No. 52/V/2025/Sek.Tj. Penerima laporan saat itu, Aipda Yulianto Nugroho, sudah memeriksa saksi dan berjanji segera melakukan gelar perkara untuk menaikkan status pelaku menjadi tersangka.

Bermaksud Menengahi Malah Diserang

Seorang saksi yang juga merupakan warga Cluster Evodia, Teuku Basri membenarkan kronologi dugaan penganiayaan yang terjadi terhadap Ustaz Habib Abdul Hakim. Awalnya, ia dan beberapa warga termasuk Ustaz Habib diundang untuk pembersihan got oleh Ketua RT. Dalam kesempatan itu Basri kemudian menyinggung soal pembangunan Fasos/Fasum RW yang dianggap tidak sesuai dengan kesepakatan warga.

“Pak RW nya dulu janjinya bangun begini, jadinya dibangun bagini,” tuturnya saat dikonfirmasi.

Basri mengatakan, posisi Ustaz Habib Abdul Hakim sendiri sebenarnya menengahi situasi yang sudah mulai tidak kondusif. Namun, alih-alih para pihak mendengarkan, justru malah ia mendapat serangan.

“Beliau (Ketua RT) pertama melerai, tiba-tiba beliau langsung memukul. Saya lihat waktu mukul kedua, karena Habib di belakang saya. Pas mukul kedua saya lihat, sudah ke tembok itu,” demikian keterangan Basri.

Tuntutan Korban

Ustaz Habib Abdul Hakim menilai penganiayaan ini sengaja untuk menutup kritik warga. Dia mendesak pengurus RT/RW mundur karena gagal menjaga keamanan dan ketertiban. “Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Saya akan terus perjuangkan keadilan,” tegasnya.

Langkah Hukum Selanjutnya

Menurut Ustaz Habib Abdul Hakim, pihak Polsek Tarumajaya akan segera memanggil terlapor setelah saksi lengkap. Jika bukti kuat, pelaku terancam Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Ustaz Habib bersama timnya siap memberikan keterangan tambahan untuk mempercepat proses. (GIT)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Uncategorized

1.000 Riders BMW Motorrad Merapat ke Bali, Pertamax Turbo Bawa Kejutan

Bali, Hotfokus.com Bali menjadi titik temu para penggemar BMW Motorrad dari berbagai...

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027
Uncategorized

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin....

Bea Cukai Sikat 29 Kg Emas Rp73 Miliar di 4 Bandara, Modusnya Bikin Geleng Kepala
HUKUM

Bea Cukai Sikat 29 Kg Emas Rp73 Miliar di 4 Bandara, Modusnya Bikin Geleng Kepala

Jakarta, Hotfokus.com Bea Cukai memperketat pengawasan terhadap pengeluaran emas ke luar negeri....

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya? Bambang Sabekti Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional setiap 4 September menjadi momentum yang menarik bagi Pelindo. Sebab, tidak lama lagi, tepat 1 Oktober 2026, Pelindo memasuki lima tahun sejak merger empat BUMN pelabuhan. Lima tahun bukan lagi sekadar masa transisi. Periode ini sudah cukup untuk melihat apakah integrasi organisasi telah menghasilkan kemampuan operasional dan nilai bisnis yang lebih baik. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah merger Pelindo berhasil menyatukan organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa incremental value setelah Pelindo menjadi satu? Jawabannya perlu dilihat setidaknya dari dua sisi: operational excellence dan customer value. Dalam bisnis pelabuhan, operational excellence tidak cukup dimaknai sebagai meningkatnya produktivitas satu terminal. Pelabuhan merupakan sistem yang melibatkan kapal, terminal, peralatan, tenaga kerja, gate, yard, trucking, serta berbagai proses pelayanan. Operational excellence berarti kemampuan mengelola proses tersebut secara efisien, konsisten, reliable, dan predictable. Kapal membutuhkan kepastian berth. Bongkar muat membutuhkan produktivitas peralatan. Kontainer membutuhkan yard yang dikelola dengan baik. Truk membutuhkan proses gate yang lancar. Pengguna jasa membutuhkan informasi yang akurat dan keputusan operasional yang cepat. Satu titik yang tidak efisien dapat mengurangi manfaat efisiensi pada titik lainnya. Di sinilah merger memberikan peluang besar. Dengan berada dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki kesempatan mengembangkan common operating standard, berbagi best practices, mengoptimalkan aset dan kapasitas, serta menggunakan data dan teknologi secara lebih terintegrasi. Namun, standardisasi bukan tujuan akhir. Bagi pelanggan, salah satu manfaat paling fundamental dari merger seharusnya adalah ease of doing business. Sebelum merger, pengguna jasa berhadapan dengan entitas Pelindo yang berbeda sesuai wilayah dan pelabuhannya. Setelah merger, pelanggan secara logis mengharapkan pengalaman berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih sederhana: standar semakin jelas, proses semakin seragam, akses informasi semakin mudah, dan tidak perlu menghadapi variasi proses yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah. Inilah salah satu acid test merger: APAKAH MENJADI PELANGGAN PELINDO SEKARANG LEBIH MUDAH DARIPADA SEBELUMNYA? Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal keramahan pelayanan. Ease of doing business menyangkut waktu, jumlah tahapan, transparansi, kepastian keputusan, kemudahan akses layanan, serta kemampuan pelanggan menyelesaikan urusannya tanpa proses yang berulang. Dengan perspektif yang sama, digitalisasi juga harus diukur dari manfaatnya bagi pelanggan. Keberhasilan digitalisasi bukan berapa banyak aplikasi yang dimiliki, tetapi berapa banyak proses yang menjadi lebih sederhana dan berapa banyak interaksi yang tidak lagi diperlukan pelanggan. Di sinilah operational excellence bertemu dengan customer value. Dalam bisnis kepelabuhanan, customer value dapat dilihat dari hal yang konkret: waktu yang lebih singkat, proses yang lebih sederhana, biaya yang lebih efisien, dan kepastian yang lebih tinggi. Merger juga memberikan peluang untuk mengelola Pelindo sebagai port network, bukan sekadar kumpulan terminal. Dengan jaringan nasional dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan kapasitas antarpelabuhan, berbagi best practices, mengurangi ketidakseimbangan utilisasi, dan memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun, network advantage baru menjadi value apabila pelanggan dapat merasakannya dalam bentuk layanan yang lebih baik dan proses bisnis yang lebih mudah. Karena itu, ukuran keberhasilan merger juga harus tetap berada dalam scope Pelindo. Pelindo tidak menentukan surplus atau defisit perdagangan dan tidak dapat sendirian menyelesaikan seluruh persoalan biaya logistik nasional. Ukuran yang lebih fair adalah: seberapa besar efisiensi, reliability, dan kemudahan berusaha yang berhasil diciptakan pada bagian rantai logistik yang berada dalam kendali Pelindo? Memasuki tahun kelima merger, pertanyaan tersebut semakin relevan. Jika lima tahun pertama merupakan periode konsolidasi dan integrasi, lima tahun berikutnya semestinya menjadi fase untuk membuktikan incremental value of integration. Hari Pelanggan Nasional dapat menjadi reality check yang sederhana. Pelanggan adalah pihak yang paling tepat untuk menilai apakah perubahan internal perusahaan benar-benar menghasilkan perubahan yang mereka rasakan. Pada akhirnya, Pelindo tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih terintegrasi. MERGER HARUS MEMBUAT PELANGGAN LEBIH MUDAH BERBISNIS DENGAN PELINDO. Kemudahan tersebut harus didukung oleh operasi yang semakin reliable, produktif, efisien, dan predictable. Pelindo sudah memiliki skala dan jaringan nasional. Tantangan lima tahun berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi operational excellence, operational excellence menjadi customer value, dan customer value menjadi ease of doing business. Itulah makna Hari Pelanggan Nasional yang relevan bagi Pelindo: bukan sekadar merayakan pelanggan, tetapi memastikan bahwa setelah lima tahun merger, pelanggan benar-benar merasakan bahwa berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih mudah.[•]
Uncategorized

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya?

Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional...