Malang, Hotfokus.com
Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) siap membantu Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung di Malang, Jawa Timur dalam hal pengembangan usaha dan manajemen koperasi. KAN Jabung saat ini tengah menghadapi kendala berupa penurunan produktivitas susu segar karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Diketahui sebelum ada wabah PMK, produksi susu segar dari KAN Jabung mencapai 55 ton per hari. Namun saat ini jumlah produksi maksimal hanya 75 persen dari kapasitas produksi sebelum ada wabah.
Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM), Teten Masduki mengatakan bahwa ada tiga masalah utama yang dihadapi oleh koperasi produksi berbasis susu segar. Pertama terkait dengan bibit sapi unggul, kemudian persoalan pakan yang berkualitas dan ketiga adalah manajemen produksi.
Dijelaskan MenKopUKM Teten bahwa sapi yang sudah pernah terserang PMK memang tidak akan pernah bisa pulih 100 persen. Akibatnya sapi perah yang pernah terkena PMK produksi susunya sudah dipastikan akan mengalami penurunan. Oleh sebab itu manajemen pengurus koperasi KAN Jabung diminta mengganti sapinya dengan sapi yang lebih sehat agar produktivitas susu segarnya dapat meningkat.
“Kalau kita nggak berani melompat ya kita nggak akan pernah berubah, begini – begini aja. Jadi saya sarankan jenis sapinya diganti jenis Jersey karena lebih tahan cuaca dan lebih toleran dengan pakan yang tidak terlalu berkualitas sekalipun tapi produksi susunya banyak,” ungkap MenKop Teten Masduki dalam kunjungan kerjanya ke KAN Jabung, Kamis (20/10/2022).

Dijelaskan untuk mengganti jenis sapi para peternak yang menjadi anggota koperasi memang tidak mudah karena butuh investasi yang besar. Oleh sebab itu MenKop Teten akan membantu KAN Jabung untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan tambahan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi (LPDB) atau melalui skema pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Klaster. Fasilitas pembiayaan tambahan ini juga diharapkan dapat menjadi solusi dari persoalan pengadaan pakan yang berkualitas bagi KAN Jabung.

“Kita akan coba mendiskusikan agar ini bisa jadi piloting untuk mengakses KUR klaster juga sehingga bisa menjawab persoalan pada bibit dan akses pakan yang berkualitas. Kita juga akan diskusikan dengan tim LPDB terkait hal ini,” sambungnya.
Menurut MenKop Teten dengan KUR klaster, anggota koperasi KAN Jabung berpotensi mendapatkan akses pembiayaan hingga Rp500 juta setiap orangnya. Hal itu bisa terjadi lantaran KAN Jabung sudah menerapkan praktik bisnis yang modern dan telah terhubung dengan industri pengolahan susu (IPS) sebagai offtakernya.
“Kita akan kombinasikan antara dana dari LPDB dengan KUR klaster, ini akan kita coba jajaki. Kalau hibah saat ini sudah tidak ada,” tukasnya.
Sementara itu Ketua I KAN Jabung, Herman Suparjono mengatakan bahwa PMK memang menjadi persoalan yang serius bagi bisnis koperasi. Wabah ini mengakibatkan pendapatan petani atau peternak anjlok drastis. Bahkan ada beberapa anggotanya yang terpaksa harus mengurangi jumlah sapi agar tidak terlalu merugi.
“PMK betul-betul menjadi kendala kami, meski saat ini sudah membaik tapi produktivitas sapi belum sepenuhnya pulih karena PMK. Selama 4 bulan kita berupaya dengan berbagai cara bisa mencapai produktivitas seperti sebelum PMK,” kata Herman.
Terkait dengan penggantian jenis sapi, Herman mengatakan bahwa hal itu sudah menjadi pemikiran dari pengurus koperasi. Namun karena terkendala modal, rencana tersebut hingga saat ini belum bisa dilakukan.
“Soap replacement sapi baru sudah pernah kita rencanakan namun kemampuan finansial untuk punya sapi baru itu berat,” tukasnya.
Sementara itu Direktur Utama LPDB-KUMKM, Supomo mengatakan sebagai Badan Layanan Umum di bawah koordinasi KemenKopUKM, pihaknya siap mendukung KAN Jabung untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Tercatat LPDB-KUMKM sudah mengucurkan pembiayaan kepada koperasi ini mencapai Rp18,15 miliar sejak tahun 2021.
“Kita juga siap membantu KAN Jabung untuk membangun farm laktasi. Kita sebenarnya sudah mendiskusikan hal itu,” ucap Supomo.
Terkait dengan kesulitan yang sedang dihadapi oleh KAN Jabung dengan penurunan produksi susu qsegar akibat wabah PMK, Supomo berencana memberikan kebijakan khusus qberupa relaksasi agar beban kewajibannya kepada LPDB bisa lebih ringan. Saat ini tim LPDB sedang mengkaji berbagai kemungkinan terkait jenis relaksasi yang bisa diberikan kepada koperasi tersebut.
“Sangat memungkinkan untuk dilakukan perpanjanhan grace periode. Bahkan kami sudah tawarkan sebelumnya, kita bisa tawarkan relaksasi apa yang bisa dilakukan terhadap KAN Jabung,” tukasnya. (DIN)
Leave a comment