Jakarta, hotfokus.com
PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan sebagai langkah menjaga ketahanan energi nasional. Upaya ini menjadi krusial di tengah tekanan geopolitik yang memicu fluktuasi pasokan dan harga energi fosil dunia.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan perusahaan aktif memperkuat bauran energi melalui sumber rendah karbon. “Kami ingin menghadirkan energi yang lebih mandiri sekaligus ramah lingkungan,” ujarnya.
Sepanjang 2025, Pertamina membukukan produksi energi bersih sebesar 8.743 GWh. Energi tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari panas bumi, gas to power, tenaga surya, hingga biogas. Total kapasitas pembangkit mencapai 3.271 MW, dengan kontribusi terbesar dari proyek Jawa Satu Power sebesar 1.760 MW.
Selain itu, pembangkit panas bumi berkontribusi 772,5 MW, sementara tenaga surya dari Pertamina Power Indonesia menyumbang 55,3 MW. Perusahaan juga memperluas portofolio internasional melalui investasi di Citicore Renewable Energy Corporation dengan kapasitas PLTS 669,3 MW.
Tidak hanya menyasar sektor industri, Pertamina juga mendorong pemanfaatan energi bersih di masyarakat lewat program Desa Energi Berdikari. Hingga kini, 252 desa telah memanfaatkan energi transisi seperti panel surya, mikrohidro, dan biogas.

Program tersebut turut menggerakkan sektor pangan. Sebanyak 156 desa mampu memproduksi 15,8 ribu ton beras dan 890,4 ton pangan non-beras, sehingga memperkuat ekonomi lokal.
“Energi transisi membuat desa lebih mandiri sekaligus mendorong aktivitas ekonomi,” kata Baron.

Ke depan, Pertamina berkomitmen memperluas pengembangan energi bersih guna mendukung target Net Zero Emission 2060. Langkah ini sejalan dengan arah Rencana Umum Energi Nasional serta penerapan prinsip keberlanjutan berbasis ESG. (*)
Leave a comment