Jakarta, hotfokus.com
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan program restarting untuk mempercepat pemulihan sektor industri kecil di Sumatera dan Aceh yang terdampak bencana.
“Bencana alam di Sumatera dan Aceh memberi dampak luas. Tak hanya pada masyarakat dan infrastruktur, tapi juga aktivitas industri, khususnya industri kecil dan menengah (IKM),” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, saat memimpin rapat perdana bersama jajarannya, Jumat (2/1/2026).
Dari hasil laporan yang dihimpun hingga 30 Desember 2025, Agus mengungkap dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak. Disusul Sumatera Barat 367 industri dan Sumatera Utara 52 industri.
Menurut menteri, dampak bencana terhadap sektor industri secara umum tak hanya disebabkan kerusakan fisik fasilitas produksi, tapi lebih banyak dipicu gangguan sistemik terhadap rantai pasok dan logistik.
Seperti terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi BBM serta ketidakstabilan pasokan listrik dan air menyebabkan banyak industri pengolahan harus menghentikan sementara kegiatan produksi atau beroperasi jauh di bawah kapasitas normal.
“Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil,” ungkapnya.

Dengan menggunakan pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, dampak banjir di Sumatera dan Aceh diperkirakan menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp11-Rp15 triliun. Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional. (bi)
Leave a comment