Jakarta, Hotfokus.com
Limbah minyak goreng rumah tangga kini memiliki peluang menjadi bahan baku energi penerbangan. PT Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Koperasi mulai mengembangkan sistem pengumpulan minyak jelantah melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Program percontohan yang berlangsung di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini menargetkan pengumpulan 500.000 liter minyak jelantah dalam waktu sekitar empat bulan. Inisiatif tersebut sekaligus membuka peluang pendapatan bagi koperasi dan mendorong masyarakat mengelola limbah secara lebih bertanggung jawab.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menilai keterlibatan masyarakat dan koperasi menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok energi berkelanjutan.

“Dari dapur warga, kita bangun fondasi pasokan. Melalui koperasi, kita perkuat pengumpulan. Dan dengan kapabilitas Pertamina dari hulu hingga hilir, kita jadikan minyak jelantah bagian dari solusi energi berkelanjutan,” kata Simon.
Pertamina Perluas Produksi Avtur Hijau
Pertamina telah mengembangkan teknologi pengolahan minyak jelantah menjadi sustainable aviation fuel (SAF), yakni bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Pengembangan ini mencakup pengujian menggunakan pesawat CN235, pengujian bersama Garuda Indonesia, hingga penerbangan komersial perdana Pelita Air rute Jakarta-Denpasar pada 2025.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menjelaskan, Kilang Cilacap telah memiliki kemampuan memproduksi SAF dengan dukungan Katalis Merah Putih hasil inovasi dalam negeri.
Selanjutnya, Pertamina berencana memperluas fasilitas pengolahan ke Kilang Balongan, Dumai, dan Plaju. Ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pengembangan bahan bakar tersebut.
Koperasi Jadi Penghubung Pasokan
Menteri Koperasi Ferry Juliantono berharap skema pengumpulan minyak jelantah ini dapat diterapkan lebih luas oleh koperasi di berbagai daerah. Pada tahap awal, empat koperasi di Banyumas terlibat, yakni KDMP Dawuhan, KKMP Kober, KKMP Karanglewas Lor, dan KKMP Karangwangkal.
Menurut Ferry, minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan. Satu liter minyak jelantah berpotensi mencemari hingga satu juta liter air bersih.

Karena itu, program bertajuk “Jelantah Jadi Berkah” mendorong rumah tangga, warung makan, restoran, dan industri kecil menyalurkan minyak bekas melalui koperasi. Selain membantu mengurangi pencemaran, skema ini diharapkan menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. (*)
Leave a comment