Home OPINI Ketika Api Lebih Bankable daripada Pencegahan
OPINI

Ketika Api Lebih Bankable daripada Pencegahan

Share
Share

Oleh : Andi N Sommeng

Karhutla dan paradoks tata kelola: uang datang setelah bencana, bukan sebelum bencana.
Karhutla sering diperlakukan sebagai bencana alam. Padahal sebagian masalahnya lahir dari desain kebijakan yang salah insentif.

Api sebagai Tiket Anggaran.

Ketika anggaran besar baru bergerak setelah api muncul dan status darurat ditetapkan, sistem tanpa sadar memberi pesan keliru: pencegahan tidak terlalu “bernilai”, kedaruratan justru lebih bankable.
Inilah perverse incentive: masalah yang seharusnya dihilangkan justru menjadi prasyarat agar sumber daya tersedia.

Akibatnya, ukuran kerja bergeser dari berapa kebakaran yang berhasil dicegah menjadi berapa besar operasi setelah kebakaran terjadi.

Ketika Tanah Mendapat Nilai dari Api

Masalah menjadi lebih berbahaya bila lahan pascakebakaran kemudian lebih mudah berubah fungsi atau memperoleh nilai ekonomi.
Di sini api bukan lagi sekadar bencana ekologis. Ia berpotensi menjadi instrumen ekonomi.
Paradoksnya tajam:
hutannya kehilangan nilai, tanahnya justru bisa memperoleh nilai.
Jika manfaat setelah kebakaran lebih besar daripada risiko hukum sebelum membakar, maka kita sedang menciptakan moral hazard.
Industri Kedaruratan
Setelah api membesar, mesin kedaruratan bekerja.
Helikopter terbang. Pesawat menjatuhkan air. Kamera merekam. Anggaran terserap.
Negara tampak sibuk.
Masalahnya, kebakaran gambut tidak selesai hanya dengan air dari langit. Tanpa operasi darat, pembasahan gambut, sekat kanal, patroli, dan pengendalian sumber api, water bombing mudah berubah menjadi BAB , Buang Air Berbiaya besar .
Air turun. Foto bagus. Api bisa muncul lagi.
Pencegahan Memang Tidak Fotogenik
Pencegahan tidak menghasilkan gambar dramatis.
Tidak ada breaking news:
“Hari ini jutaan hektare hutan tidak terbakar.”
Padahal itulah prestasi sesungguhnya.
Dalam manajemen risiko, keberhasilan bukan diukur dari seberapa gagah kita menangani kecelakaan, tetapi dari seberapa efektif kita mencegahnya.
Kilang yang aman bukan kilang yang hebat memadamkan ledakan.
Hutan yang dikelola baik bukan hutan yang hebat dipadamkan.
Ia tidak terbakar sejak awal.
Balik Insentifnya
Karena itu, filosofi anggaran karhutla harus dibalik.
Dana terbesar seharusnya tersedia sebelum api: untuk restorasi gambut, patroli berbasis risiko, penyelesaian konflik lahan, early warning, penegakan hukum, dan pemberdayaan masyarakat.
Indikator keberhasilan juga harus berubah.
Bukan, berapa helikopter diterbangkan.
Tetapi, berapa hektare yang tidak jadi terbaka.


Sebab selama uang, perhatian, dan panggung politik lebih mudah datang setelah api membesar, kita sebenarnya sedang membangun sistem yang lebih pandai mengelola bencana daripada mencegahnya. Dan di situlah ironi terbesar karhutla:
yang paling berbahaya bukan api di hutan, melainkan insentif yang membuat api lebih bernilai daripada hutan yang tetap utuh. [•]

|A||N||S|
Buitenzorg,
21Agustus2026
Verba volant, scripta manent

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
OPINI

Pelindo-Pelni-ASDP Dinilai Perlu Integrasikan Rantai Nilai Maritim Nasional

Jakarta, Hotfokus.com Wacana menempatkan PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) dan PT ASDP...

Lollan Panjaitan; Plt Dirjen Hubla Baru, Teknokrat UI-ITB yang Pernah Belajar Teologi di Doulos
OPINI

Lollan Panjaitan; Plt Dirjen Hubla Baru, Teknokrat UI-ITB yang Pernah Belajar Teologi di Doulos

Oleh : Hasanul Batubara Di tengah sorotan tajam publik terhadap keselamatan pelayaran...

Sofyano Puskepi: Dukung Menhub Asesmen Direksi Komisaris Perusahaan Pelayaran
OPINI

Sofyano Puskepi: Dukung Menhub Asesmen Direksi Komisaris Perusahaan Pelayaran

Jakarta, Hotfokus.com Wacana Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi untuk melakukan asesmen terhadap direksi...

Ferdinand Soroti Sengketa Eks Hotel Anggrek: Jangan Biarkan Hukum Jadi Alat Rampok Tanah
OPINI

Ferdinand Soroti Sengketa Eks Hotel Anggrek: Jangan Biarkan Hukum Jadi Alat Rampok Tanah

Jakarta, Hotfokus.com Sengketa lahan eks Hotel Anggrek di kawasan Batu Gajah, Ambon,...